Wednesday, April 4, 2007

Dilangkahi adik……sedih atau bahagia …?

Hari demi hari bergnati seiring bertambahnya umur dan bertambah cepatnya debaran jantungku menunggu sang pujaan hati yang tak kunjung datang. Aku pun semakin menciut ke sudut ruang hampaku ketika semakin banyak bermunculan pertanyaan khas dari segala arah tentang itu.

Perasaanku kan tenang apabila aku berada di tengah-tengah keluarga yang sangat memaklumi keadaanku. Apalagi masih ada kakak dan adik cowokku yang belum menikah selain aku. Hingga pada suatu saat ketika tanpa angin dan hujan tiba-tiba hapeku berbunyi, dan terjadilah sebuah percakapan singkat dari dua tempat yang saling berjauhan :

“ Mba, adek mau merid,” ucap sebuah suara yang terdengar lirih penuh nada sungkan.
“ Waaah, ya aku ikut senang. Terus kapan? Tanggal dan tempatnya sudah ada?” tanyaku penuh suka cita.
“ Alhamdulillah semua sudah siap. Tapi, Mba tidak apa-apa kan, kalau adek merid duluan?”

BLAAAAAR!!!! Baru deh terdengar bunyi petir menggelegar. Yang barusan telepon adalah adik cowokku yang bekerja diluar kota, bukan salah satu sahabat atau teman senasib yang sedang sama-sama dalam masa penantian penuh misteri Sang Ilahi itu. Aku baru sadar kalau akhirnya akan dilangkahi adikku yang sebulan lagi akan menikah.

Entah apa yang akan aku dengar dari orang atau saudara-saudara sepulangnya aku ke rumah orang tuaku kelak. Bagaimana tidak? Setiap teman-teman seangkatan dan adik-adik kelas yang merantau ke kota. Tidak berapa lama kemudian mereka pulang sambil membawa kekasih masing-masing dan segera melangsungkan pernikahan.

Bahkan yang lebih parah, adik-adik kelas yang masih imut-imut dan sangat berpotensi untuk memperbaiki taraf hidup atau mencetak prestasi pun “terpaksa” pulang karena sudah terlanjur berbadan dua. Dan mereka menikah dengan keadaan keluarga yang tidak menentu sesudahnya. Aku tidak ingin terjadi seperti itu. Tidak mau!

Tapiiii….sejak 12 tahun aku meninggalkan rumah untuk belajar menuntut ilmu hingga sekarang sudah bekerja. Belum pernah sekalipun aku membawa teman cowok pulang ke rumah. Apakah aku tidak laku?

Aku sih memegang prinsip, karena aku yang jauh dari orang tua, aku tidak ingin kehilangan kepercayaan orang tua dan ingin menjaga semuanya akan indah pada waktunya. Mungkin kesannya aku sok jual mahal dan sombong. Tapi selama ini sikapku memang menghindarkan aku dari segala pergaulan yang buruk dan membuatku nyaman dalam kesendirian. Atau….apakah aku terlalu mahal menjual diri sehingga aku belum juga mempunyai pasangan hidup?

No comments: